Sunday, January 8, 2012 0 comments

My Mom is My Hero

Ketika pertama kali Engkau menghirup udara di dunia ini, maka semua orang menyambut kedatanganmu dengan penuh gembira.

Ibu yang bertaruh nyawa ketika engkau keluar dari rahimnya, penderitaan dan kesakitan yang ia rasakan, hilang seketika…. ketika engkau lahir dengan selamat.

Di letakannya dirimu di sampingnya Ia cium dan ia peluk dirimu seakan-akan ia ingin berkata ; Nak…kesakitan tatkala ibu ingin Melahirkan engkau, semuanya hilang setelah melihat senyummu….

Setelah engkau hadir di dunia Ayah dan ibu senantiasa menjagamu dari berbagai macam marabahaya, sampai-sampai ia tidak ridho jika seekor nyamuk pun menggigitmu, ketika engkau menangis di malam hari Orang tua yang sedang tidur nyenyak bergegas-gegas melihat dan mendekatimu karena mereka takut kehilangan dirimu.
Mereka menjagamu lebih dari segalanya, ketika engkau sakit… Orang tuamu telah bersusah payah untuk mencari berbagai macam cara agar engkau sembuh meskipun ketika itu ia sendiri sedang sakit Ia paksakan dirinya untuk mengobatimu agar Engkau sembuh Ia rela berhutang kesana kemari untuk membayar obat-obat mu Ia malukan dirinya…hanya dengan harapan agar engkau segera sembuh


Tetapi….Ketika penyakitmu bertambah parah, makin bertambah pula… kesedihan dan kerisauan mereka terhadapmu, tetesan air mata itu…selalu keluar dari kelopak mata mereka di jaganya dirimu siang dan malam tanpa menghiraukan kelaparan yang mereka rasakan berhari-hari ia menjagamu, kotoran-kotoranmu di basuh mereka dengan tangannya.

Ayah dan ibumu, di saat itu mereka tidak tenang di manapun mereka berada mereka khawatir dan takut… kalau-kalau kehilangan dirimu dari dunia ini, Andaikata…. kesakitan yang engkau rasakan itu bisa dipindahkan kepada mereka sebagai gantinya tentu mereka siap menerimanya agar engkau kembali tersenyum seperti anak-anak yang lain Di waktu Allah menyembuhkan engkau, Orang tuamulah… yang pertama kali sujud syukur…. karena senang dan gembira melihat engkau kembali ceria Ketika hari berganti hari pertumbuhanmu semakin besar Orang tuamu makin bertambah sibuk mengurusi keperluan-keperluanmu, hujan dan panas tiada mereka hiraukan siang dan malam tiada ia pandangYang semua itu… Ia lakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhanmu mereka tidak ingin melihat engkau malu di hadapan teman-temanmu yang lain. Di masa dekat Hari Raya tiba… Orang tuamu…. makin bertambah sibuk untuk membahagiakanmu, dari pagi hingga malam ia bekerja tanpa menghiraukan susah dan payah mereka terus bekerja dengan harapan agar engkau dapat memakai pakaian baru di hari raya, sama seperti teman-temanmu yang lain. Mereka rela di marah ketika bekerja, di hina dan di caci…. itu semua untuk dirimu

Awal-awal engkau duduk di bangku Madrasah, amat senang sekali orangtuamu setiap saat mereka berdo’a mudah-mudahan besok jika engkau besar engkau dapat membahagiakan mereka pagi-pagi sebelum engkau bangun dari tempat tidur mereka telah bangun duluan mempersiapkan sarapan dan air mandi untuk dirimu, di bangunkannya dirimu dengan kasih sayang di lepaskannya pakaianmu dengan kelembutan dan ia pun memandikanmu, setelah engkau siap semuanya….merekapun menghantarmu ke Madrasah agar engkau menjadi anak yang berbakti di Kemudian hari

Tetesan keringat dan air mata mereka untuk mengasuh dan mendidikmu tidak mungkin engkau dapat membayarnya walaupun engkau memiliki dunia beserta isinya.

Tetapi ajaib…

Selama mereka mengasuh dan mendidikmu tidak pernah terlintas dari pikiran dan hati mereka agar engkau menggantinya. Tahun berganti tahun engkaupun tumbuh besar hingga usiamu mencapai 15 tahun, mereka terus berusaha untuk membiayai sekolahmu penghasilan yang tidak mencukupi, memaksa mereka bekerja lebih lama.

Perhatikanlah….

Orang tuamu yang sudah semakin tua, Mereka terpaksa menjadi kuli bangunan, nelayan, dan menjadi pencuci baju orang lain, kelelahan dan pengorbanan yang mereka berikan tidak akan mungkin engkau dapat merasakan, apalagi di lukis dengan kata-kata. Mereka hadapi badai yang menerpa,mereka pikul kayu dan semen yang engkau sendiri tidak kuat mengangkatnya, mereka korbankan kelelahan mereka, sampai-sampai nampak mata mereka yang telah redup karena kelelahan mencari nafkah. Dikala mereka telah kembali dari kerjanya engkau lihat… mereka tersandar dibangku karena kelelahan di saat mencari nafkah untukmu , mereka tidak merasakan enaknya makan sebelum mereka melihat engkau makan. Usiamu yang makin hari makin bertambah membuat kecintaan dan kasih sayang mereka semakin besar terhadapmu kepergianmu sehari dua hari, meninggalkan rumah untuk bertamasya, membuat hati mereka bimbang dan khawatir terhadap dirimu, mereka takut, kalau-kalau suatu musibah menimpamu, makan tiada ia rasakan enak, tidur tiada ia rasakan nyenyak mereka selalu memikirkan keselamatan dirimu. Ketika usiamu menginjak dewasa keperluan sekolahmu semakin besar.


Terpaksa… Orang tuamu yang telah tua kembali bekerja kesana-kemari dengan harapan agar engkau menjadi orang yang sukses dikemudian hari, tidak jarang mereka meminjam uang tetangga…. untuk memenuhi permintaan-permintaanmu. Adzan yang berkumandang tiada ia hiraukan seakan-akan ia ingin berkata ;Wahai anakku…. Biarlah orang tua di benci Allah, asalkan engkau senang nak…….Mereka rela meninggalkan perintah-perintah Allah, itu semua untuk membuat engkau tersenyum...
Thursday, January 5, 2012 0 comments

Seglintir Masa

Kesan pertama waktu aku baru menginjakkan kaki disekolah Taman Kanak-kanak, Aku dikenal sebagai seorang gadis lugu, pendiem, gak bakal ngomong kalo gak ditanya orang (bisa disebut sebagai patung atau robot elektrik.. ahahha = *padahal emang belom lancar ngomonk*) dengan penampilan yang agak menor perhiasan ngeblink dimana-mana, makeupnya setebel abu bekas erupsi merapi beberapa tahun yang lalu, lipstiknya semerah darah seperti vampir yang abis ngisep darah manusia (lebay beudh). Aku duduk sendirian dipojok kelas belum punya temen, gak diteminin nyokap pula, karna memang jarak rumah dan sekolahku lumayan deket, jadi aku gak perlu dianter nyokap kaya anak-anak yang lain (aku kan gadis pemberani,, *gubraaakkKK cettaarrrrrr*), tiba-tiba ada ibu-ibu paruh baya yang  kebetulan mengantar seorang gadis datang menghampiriku dan sruppuuut, oooooooooh, *seketika mataku langsung terbelalak kaget*, dia memelukku sambil menangis dan berkata "ya Allah anak sekecil ini kenapa udah kehilangan ayahnya, nasib kamu seperti keponakanku nak yang baru aja tinggal ayahnya” “itu keponakanku". sambil menunjuk kearah keponakannya tersebut, akupun hanya merilirik sirih sama anak itu dan tak berkomentar sepatah katapun. Aku merasa ada yang aneh dari ibu itu, kenapa cuma aku yang dipeluk dia, sedangkan masih banyak anak yang nasibnya seperti itu. Akhirnya aku kenalan sama keponakan ibu tadi, namanya Emma, anaknya cantik, dia punya tai lalat dihidung persis seperti nyokapku, anehnya lagi tanggal lahir kita sama, yaaah meskipun cuma beda setahun lebih tua dari pada aku. Dari situ aku mulai bisa sedikit demi sedikit mengenal temen-temen yang lain, meskipun bukan temen deket, tapi setidaknya aku bisa punya temen dan gak perlu buat membeda-bedakan mereka.
Waktu itu aku belum begitu deket sama temen-temen sekelas, cuma ada tiga anak cewek yang deket sama aku, namanya Wiwin, Uus, dan Rifa itupun deketnya karna mereka tetanggaku sendiri, kita menjadi temen akrab. Kita selalu bareng entah itu berangkat sekolah bareng, pulang sekolah bareng, makan bareng, sampe mandi juga barengan (pas masih boncell, gpp kalo mandinya bareng) pokoknya dimana ada aku pasti ada mereka, tapi diantara kita ada salah satu anak yang manjanya minta diampun dan punya sifat iri bahkan sama temennya sendiri (bukan bermaksud untuk menjelek-jelekkan, tapi kenyataannya emang seperti itu) *hihihihi* sifatnya yang seperti itu bikin kita gak respect lagi sama dia (maklumlaah masih kanak-kanak). Kita sudah jarang main sama dia, kemana-mana kita cuma bertiga. Sampai akhirnya Rifa jatuh sakit dan harus diopname dirumah sakit, dia divonis terjangkit demam berdarah, tak lama dia dirawat dirumah sakid, bukan kesembuhan yang didapat tapi ternyata Allah lebih dulu mengambil dia. Semenjak itu aku cuma punya satu sahabat dan seperti biasa kita tetep selalu bareng, lagi pula dia sodara sepupuku sendiri (: so, jatuhnya kaya upin dan ipin or sodara kandung gittuh... :). Setahun telah berlalu, kita naik ketingkat yang lebih tinggi ===> ennol besar (TK-B,, ahhaha *banggaaa*) disetiap ada acara disekolah, aku, sahabatku dan temen-temen yang lain disuruh untuk mengisi acara sekolah, entah itu sekedar menari, baca puisi atau berpidato, hal itu sudah membuat hati kita seneng (skali lagi *maklumlaah masih kanak-kanak*:D ) perasaan malunya masih minim. Perjalanku untuk belajar dan bermain sudah cukup sampai disitu (anggap saja dalam dua tahun di Taman Kanak-kanak itu aktifitasku sama semua, *emmang samma*).
Ittulah ceritaku dimasa kanak-kanakku, aku tidak menekankan pada bagian-bagian yang seharusnya tidak penting untuk dibahas, yang aku bahas cuma seglintir pengalaman kecilku yang gak begitu menarik,, sebenarya masih banyak hal yang perlu disajikan dalam postingan ini, tapi aku tidak punya cukup waktu untuk mengingat-ingat berapa banyaknya pengalaman masa laluku. (inget yg nntu aja udah syukur,, hihihihi) 
kabuuurrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr.... ddaaaahhhh.

 
;