Thursday, January 5, 2012

Seglintir Masa

Kesan pertama waktu aku baru menginjakkan kaki disekolah Taman Kanak-kanak, Aku dikenal sebagai seorang gadis lugu, pendiem, gak bakal ngomong kalo gak ditanya orang (bisa disebut sebagai patung atau robot elektrik.. ahahha = *padahal emang belom lancar ngomonk*) dengan penampilan yang agak menor perhiasan ngeblink dimana-mana, makeupnya setebel abu bekas erupsi merapi beberapa tahun yang lalu, lipstiknya semerah darah seperti vampir yang abis ngisep darah manusia (lebay beudh). Aku duduk sendirian dipojok kelas belum punya temen, gak diteminin nyokap pula, karna memang jarak rumah dan sekolahku lumayan deket, jadi aku gak perlu dianter nyokap kaya anak-anak yang lain (aku kan gadis pemberani,, *gubraaakkKK cettaarrrrrr*), tiba-tiba ada ibu-ibu paruh baya yang  kebetulan mengantar seorang gadis datang menghampiriku dan sruppuuut, oooooooooh, *seketika mataku langsung terbelalak kaget*, dia memelukku sambil menangis dan berkata "ya Allah anak sekecil ini kenapa udah kehilangan ayahnya, nasib kamu seperti keponakanku nak yang baru aja tinggal ayahnya” “itu keponakanku". sambil menunjuk kearah keponakannya tersebut, akupun hanya merilirik sirih sama anak itu dan tak berkomentar sepatah katapun. Aku merasa ada yang aneh dari ibu itu, kenapa cuma aku yang dipeluk dia, sedangkan masih banyak anak yang nasibnya seperti itu. Akhirnya aku kenalan sama keponakan ibu tadi, namanya Emma, anaknya cantik, dia punya tai lalat dihidung persis seperti nyokapku, anehnya lagi tanggal lahir kita sama, yaaah meskipun cuma beda setahun lebih tua dari pada aku. Dari situ aku mulai bisa sedikit demi sedikit mengenal temen-temen yang lain, meskipun bukan temen deket, tapi setidaknya aku bisa punya temen dan gak perlu buat membeda-bedakan mereka.
Waktu itu aku belum begitu deket sama temen-temen sekelas, cuma ada tiga anak cewek yang deket sama aku, namanya Wiwin, Uus, dan Rifa itupun deketnya karna mereka tetanggaku sendiri, kita menjadi temen akrab. Kita selalu bareng entah itu berangkat sekolah bareng, pulang sekolah bareng, makan bareng, sampe mandi juga barengan (pas masih boncell, gpp kalo mandinya bareng) pokoknya dimana ada aku pasti ada mereka, tapi diantara kita ada salah satu anak yang manjanya minta diampun dan punya sifat iri bahkan sama temennya sendiri (bukan bermaksud untuk menjelek-jelekkan, tapi kenyataannya emang seperti itu) *hihihihi* sifatnya yang seperti itu bikin kita gak respect lagi sama dia (maklumlaah masih kanak-kanak). Kita sudah jarang main sama dia, kemana-mana kita cuma bertiga. Sampai akhirnya Rifa jatuh sakit dan harus diopname dirumah sakit, dia divonis terjangkit demam berdarah, tak lama dia dirawat dirumah sakid, bukan kesembuhan yang didapat tapi ternyata Allah lebih dulu mengambil dia. Semenjak itu aku cuma punya satu sahabat dan seperti biasa kita tetep selalu bareng, lagi pula dia sodara sepupuku sendiri (: so, jatuhnya kaya upin dan ipin or sodara kandung gittuh... :). Setahun telah berlalu, kita naik ketingkat yang lebih tinggi ===> ennol besar (TK-B,, ahhaha *banggaaa*) disetiap ada acara disekolah, aku, sahabatku dan temen-temen yang lain disuruh untuk mengisi acara sekolah, entah itu sekedar menari, baca puisi atau berpidato, hal itu sudah membuat hati kita seneng (skali lagi *maklumlaah masih kanak-kanak*:D ) perasaan malunya masih minim. Perjalanku untuk belajar dan bermain sudah cukup sampai disitu (anggap saja dalam dua tahun di Taman Kanak-kanak itu aktifitasku sama semua, *emmang samma*).
Ittulah ceritaku dimasa kanak-kanakku, aku tidak menekankan pada bagian-bagian yang seharusnya tidak penting untuk dibahas, yang aku bahas cuma seglintir pengalaman kecilku yang gak begitu menarik,, sebenarya masih banyak hal yang perlu disajikan dalam postingan ini, tapi aku tidak punya cukup waktu untuk mengingat-ingat berapa banyaknya pengalaman masa laluku. (inget yg nntu aja udah syukur,, hihihihi) 
kabuuurrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr.... ddaaaahhhh.

No comments:

 
;