Kesan pertama waktu aku baru menginjakkan kaki disekolah Taman Kanak-kanak, Aku dikenal sebagai seorang gadis lugu, pendiem, gak bakal ngomong
kalo gak ditanya orang (bisa disebut sebagai patung atau robot
elektrik.. ahahha = *padahal emang belom lancar ngomonk*) dengan
penampilan yang agak menor perhiasan ngeblink dimana-mana, makeupnya
setebel abu bekas erupsi merapi beberapa tahun yang lalu, lipstiknya
semerah darah seperti vampir yang abis ngisep darah manusia (lebay
beudh). Aku duduk sendirian dipojok kelas belum punya temen, gak
diteminin nyokap pula, karna memang jarak rumah dan sekolahku lumayan
deket, jadi aku gak perlu dianter nyokap kaya anak-anak yang lain
(aku kan gadis pemberani,, *gubraaakkKK cettaarrrrrr*), tiba-tiba ada
ibu-ibu paruh baya yang kebetulan mengantar seorang gadis datang menghampiriku dan sruppuuut,
oooooooooh,
*seketika mataku langsung terbelalak kaget*, dia memelukku sambil
menangis dan berkata "ya
Allah anak sekecil ini kenapa udah kehilangan ayahnya, nasib kamu
seperti keponakanku nak yang baru aja tinggal ayahnya” “itu
keponakanku".
sambil menunjuk kearah keponakannya tersebut, akupun hanya merilirik
sirih sama anak itu dan tak berkomentar sepatah katapun. Aku merasa
ada yang aneh dari ibu itu, kenapa cuma aku yang dipeluk dia,
sedangkan masih banyak anak yang nasibnya seperti itu. Akhirnya aku
kenalan sama keponakan ibu tadi, namanya Emma, anaknya cantik, dia
punya tai lalat dihidung persis seperti nyokapku, anehnya lagi
tanggal lahir kita sama, yaaah meskipun cuma beda setahun lebih tua
dari pada aku. Dari situ aku mulai bisa sedikit demi sedikit mengenal
temen-temen yang lain, meskipun bukan temen deket, tapi setidaknya
aku bisa punya temen dan gak perlu buat membeda-bedakan mereka.
Waktu itu
aku belum begitu deket sama temen-temen sekelas, cuma ada tiga anak
cewek yang deket sama aku, namanya Wiwin, Uus, dan Rifa itupun
deketnya karna mereka tetanggaku sendiri, kita menjadi temen akrab.
Kita selalu bareng entah itu berangkat sekolah bareng, pulang sekolah
bareng, makan bareng, sampe mandi juga barengan (pas masih boncell,
gpp kalo mandinya bareng) pokoknya dimana ada aku pasti ada mereka,
tapi diantara kita ada salah satu anak yang manjanya minta diampun
dan punya sifat iri bahkan sama temennya sendiri (bukan bermaksud
untuk menjelek-jelekkan, tapi kenyataannya emang seperti itu)
*hihihihi* sifatnya yang seperti itu bikin kita gak respect lagi sama
dia (maklumlaah masih kanak-kanak). Kita sudah jarang main sama dia,
kemana-mana kita cuma bertiga. Sampai akhirnya Rifa jatuh sakit dan
harus diopname dirumah sakit, dia divonis terjangkit demam berdarah,
tak lama dia dirawat dirumah sakid, bukan kesembuhan yang didapat
tapi ternyata Allah lebih dulu mengambil dia. Semenjak itu aku cuma
punya satu sahabat dan seperti biasa kita tetep selalu bareng, lagi
pula dia sodara sepupuku sendiri (: so, jatuhnya kaya upin dan ipin
or sodara kandung gittuh... :). Setahun telah berlalu, kita naik
ketingkat yang lebih tinggi ===> ennol besar (TK-B,, ahhaha
*banggaaa*) disetiap ada acara disekolah, aku, sahabatku dan
temen-temen yang lain disuruh untuk mengisi acara sekolah, entah itu
sekedar menari, baca puisi atau berpidato, hal itu sudah membuat hati
kita seneng (skali lagi *maklumlaah masih kanak-kanak*:D )
perasaan malunya masih minim. Perjalanku untuk belajar dan bermain
sudah cukup sampai disitu (anggap saja dalam dua tahun di Taman
Kanak-kanak itu aktifitasku sama semua, *emmang samma*).
Ittulah
ceritaku dimasa kanak-kanakku, aku tidak menekankan pada
bagian-bagian yang seharusnya tidak penting untuk dibahas, yang aku
bahas cuma seglintir pengalaman kecilku yang gak begitu menarik,,
sebenarya masih banyak hal yang perlu disajikan dalam postingan ini,
tapi aku tidak punya cukup waktu untuk mengingat-ingat berapa
banyaknya pengalaman masa laluku. (inget yg nntu aja udah syukur,,
hihihihi)
kabuuurrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr.... ddaaaahhhh.
kabuuurrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr.... ddaaaahhhh.



No comments:
Post a Comment